Advertorial

Ziarah Makam Raja, Bupati Aulia Ingatkan Sejarah Awal Kota Raja

×

Ziarah Makam Raja, Bupati Aulia Ingatkan Sejarah Awal Kota Raja

Sebarkan artikel ini
Bupati Kukar lakukan ziarah ke makam Raja-raja di kawasan Museum Mulawarman

Pijar.asia | Kutai Kartanegara – Perkembangan daerah yang berjuluk Kota Raja hingga menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tidak terlepas dari perjalanan panjang Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Hal itu kembali diingatkan Bupati Kukar Aulia Rahman Basri saat melakukan ziarah ke kompleks makam raja-raja di kawasan Museum Mulawarman, Senin (28/9/2026).

Salah satu makam yang diziarahi yakni Sultan Aji Muhammad Muslihuddin atau Sultan Aji Imbut dan Raja-raja terdahulu. Sosok Sultan Aji Imbut tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Tenggarong karena pada masanya pusat pemerintahan dipindahkan dari Pemarangan menuju Tepian Pandan.

Dari lokasi baru itu kemudian muncul kawasan yang dikenal sebagai Tangga Arung atau rumah raja. Perjalanan tersebut menjadi salah satu bagian yang membentuk Tenggarong sebagai pusat pemerintahan hingga berkembang seperti sekarang.

“Kalau kita melihat Tenggarong hari ini, tentu tidak terlepas dari proses yang sudah dilalui sejak masa pemerintahan Sultan Aji Imbut. Pemindahan pusat pemerintahan dari Pemarangan ke Tepian Pandan menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan tersebut,” ujar Aulia.

Keputusan pemindahan itu berlangsung di tengah kondisi Pemarangan yang menghadapi pemberontakan. Sementara itu, Sultan Aji Imbut sebelumnya berada di Wajo dan kemudian kembali ke Kutai untuk mengambil kembali takhta serta melanjutkan pemerintahan.

Menurut Aulia, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa terbentuknya sebuah pusat pemerintahan membutuhkan keputusan besar yang disesuaikan dengan keadaan pada masanya. Nilai dari perjalanan itu dapat menjadi bahan refleksi bagi generasi yang melanjutkan pembangunan daerah.

“Sejarah para pendahulu memberi kita gambaran bahwa setiap perubahan memiliki alasan dan proses. Apa yang dilakukan pada masa itu kemudian menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk Tenggarong sampai sekarang,” katanya.

Karena itu, ziarah tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang para raja yang telah memimpin Kutai Kartanegara. Bagi pemerintah daerah, kegiatan tersebut juga menjadi pengingat agar perkembangan Kukar tetap berjalan dengan memahami akar sejarah dan identitas daerah.

Aulia menilai pengetahuan mengenai perjalanan terbentuknya Tenggarong perlu terus disampaikan kepada generasi muda. Dengan begitu, perkembangan kota tidak hanya dilihat dari kondisi saat ini, tetapi juga dipahami melalui sejarah panjang yang melatarbelakanginya.

“Generasi sekarang perlu mengetahui bagaimana daerah ini dibangun oleh para pendahulu. Dari sana kita bisa memahami bahwa Tenggarong memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan nilai itu harus terus diwariskan,” ungkapnya.

Di tengah perkembangan daerah, Aulia berharap identitas Tenggarong sebagai kota yang memiliki keterkaitan kuat dengan Kesultanan Kutai Kartanegara tetap dipertahankan. Pembangunan menurutnya tetap perlu berjalan seiring dengan pelestarian nilai sejarah dan budaya.

“Pembangunan terus berjalan, tetapi identitas sejarah tidak boleh hilang. Tenggarong memiliki akar yang kuat dari Kesultanan Kutai Kartanegara dan itu menjadi bagian yang harus kita jaga untuk generasi berikutnya,” pungkas Aulia. (Adv/DiskominfoKukar)