AdvertorialDPRD Kaltim

H. Baba: Influencer Boleh, Tapi Pendidikan Harus Tetap Jadi Prioritas

×

H. Baba: Influencer Boleh, Tapi Pendidikan Harus Tetap Jadi Prioritas

Sebarkan artikel ini
Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, H. Baba. (MH)

Pijar.asia | Samarinda – Fenomena anak muda yang meraih ketenaran instan melalui media sosial semakin marak. Dari aplikasi berbasis video singkat hingga platform foto, generasi muda berlomba-lomba menjadi influencer, sosok yang mampu mempengaruhi ribuan bahkan jutaan pengikut. Namun di balik kilauan popularitas digital, muncul kekhawatiran: apakah generasi ini masih memegang teguh nilai pendidikan dan karakter.

Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, H. Baba, menjadi salah satu pihak yang angkat bicara. Ia menilai bahwa tren ini adalah bagian dari perubahan zaman yang tak bisa dihindari. Namun, dirinya mengingatkan bahwa ketenaran seharusnya tidak menggantikan pentingnya fondasi kehidupan yang kokoh: ilmu pengetahuan, etika, dan konsistensi dalam berkarya.

“Anak muda sekarang kreatif, saya akui itu. Tapi jangan sampai karena mengejar penghasilan cepat, pendidikan dilupakan. Kesuksesan jangka panjang tidak bisa hanya bergantung pada jumlah pengikut,” kata Baba.

Baba menekankan bahwa dunia digital bisa membawa peluang besar, namun juga mengandung risiko. Dirinya menyebut popularitas yang datang mendadak kerap tak diiringi dengan kesiapan mental dan tanggung jawab sosial.

“Viral itu bisa satu malam. Tapi jadi pribadi yang matang, itu butuh proses. Pendidikan membantu membentuk karakter dan cara berpikir jangka panjang,” ujarnya.

Di balik pandangannya yang kritis, Baba juga menyampaikan kisah perjuangannya sendiri. Dirinya mengaku harus bekerja keras sejak kecil demi bisa mengenyam bangku sekolah. Pengalaman itu mengajarkannya arti penting dari semangat belajar dan kegigihan dalam menempuh jalan yang tidak instan.

“Kalau memang harus kerja dulu, tidak apa-apa. Tapi jangan sampai pendidikan ditutup selamanya. Bisa sambil kuliah, atau menunda sebentar, asal ada tekad untuk melanjutkan,” katanya memberi semangat.

Lebih dari sekadar imbauan moral, Baba mendorong pemerintah daerah untuk merumuskan kebijakan yang mendukung generasi muda di era digital. Dirinya menyarankan pengembangan program pendidikan fleksibel, beasiswa untuk pekerja muda, serta pelatihan etika digital yang dapat membekali anak muda dengan tanggung jawab dalam bermedia sosial.

Dirinya menilai, influencer bukan sekadar profesi berbasis ketenaran, tetapi juga ruang baru untuk menyampaikan nilai dan memberi dampak positif.

“Anak muda kita punya potensi luar biasa. Tinggal diarahkan, dibekali, supaya mereka bukan hanya jadi ikon media sosial, tapi juga pemimpin masa depan,” tutupnya. (MH/Adv/DPRDKaltim)