Pijar.asia | Kutai Kartanegara – Pengembangan pariwisata Kutai Kartanegara (Kukar) didorong melibatkan lebih banyak pihak, termasuk perusahaan yang menjalankan kegiatan usaha di daerah.
Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin menilai kontribusi dunia usaha dapat memperkuat penyelenggaraan kegiatan wisata sekaligus menghidupkan potensi di setiap wilayah.
Rendi menyampaikan, geliat pariwisata Kukar tetap terlihat meskipun pemerintah daerah tengah melakukan penyesuaian anggaran.
Terlihat juga saat ini beberapa festival masih berlangsung dan sejumlah ruang mau pun destinasi wisata baru mulai tumbuh untuk menambah pilihan bagi masyarakat serta wisatawan.
Menurutnya, perkembangan tersebut perlu diarahkan agar kunjungan wisatawan tidak berhenti pada kedatangan sesaat. Kukar harus memiliki daya tarik yang membuat pengunjung bersedia menghabiskan waktu lebih panjang dan melakukan aktivitas ekonomi selama berada di daerah.
“Jangan sampai wisatawan hanya datang sebentar lalu pergi. Kita ingin mereka tinggal lebih lama, menginap, makan, berbelanja, dan menikmati berbagai potensi yang ada di Kukar,” ujar Rendi, Rabu (23/9/2026).
Ia melihat festival menjadi salah satu cara untuk menciptakan alasan bagi wisatawan berkunjung. Karena itu, agenda di 20 kecamatan tetap perlu dipertahankan dan dikembangkan dengan mengangkat karakter masing-masing wilayah.
Rendi juga menawarkan konsep One District, One Festival, yakni setiap kecamatan memiliki kegiatan unggulan yang dapat menjadi identitas sekaligus daya tarik kunjungan.
“Setiap kecamatan punya potensi yang berbeda. Kalau masing-masing memiliki festival yang kuat, wisatawan punya lebih banyak pilihan untuk menjelajahi Kukar, tidak hanya berkegiatan di Tenggarong,” katanya.
Untuk memperkuat penyelenggaraan kegiatan tersebut, Rendi mengajak perusahaan besar yang beroperasi di Kukar ikut mengambil peran. Ia mengusulkan konsep one company, one festival, sehingga setiap perusahaan dapat mendukung satu agenda yang diselenggarakan di wilayah operasionalnya.
“Perusahaan besar yang ada di Kukar juga bisa mengambil satu festival sebagai bentuk dukungan. Jadi tidak semuanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi dunia usaha ikut punya bagian dalam mengembangkan pariwisata,” tegasnya.
Rendi mencontohkan perusahaan seperti PT. Bayan yang memiliki aktivitas di sejumlah kawasan Kukar. Menurutnya, kegiatan yang dibuat perusahaan tidak harus terpusat di luar daerah, tetapi dapat pula diarahkan ke lokasi operasional seperti Tabang dan Tenggarong.
Selain memperluas pilihan event, keterlibatan perusahaan dinilai dapat membuka ruang kolaborasi untuk mengembangkan potensi wisata di berbagai kawasan.
Pemerintah daerah dalam hal ini tetap menjadi penggerak kebijakan, sementara sektor usaha dapat memperkuat kegiatan melalui dukungan dan program yang relevan.
Rendi menilai langkah tersebut penting karena manfaat pariwisata tidak hanya dilihat dari jumlah kunjungan. Semakin banyak aktivitas wisatawan selama berada di Kukar, semakin besar pula peluang UMKM, usaha kuliner, penginapan, dan sektor terkait mendapatkan manfaat ekonomi.
“Kalau orang datang ke Kukar lalu membelanjakan uangnya di sini, dampaknya akan terasa ke banyak sektor. Itu yang harus kita kejar supaya pariwisata benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menyebut Kukar memiliki modal berupa kekayaan budaya di Tenggarong serta potensi yang tersebar di 20 kecamatan. Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui agenda yang lebih beragam dengan dukungan lintas pihak.
“Perputaran ekonomi dari sektor pariwisata secara nasional sangat besar, sekitar Rp7,1 triliun. Kalau Kukar bisa menarik satu persen saja, itu sudah menjadi peluang yang besar karena kita punya kekuatan budaya dan potensi wisata di seluruh kecamatan,” pungkas Rendi. (Adv/DiskominfoKukar)














