Pijar.asia | Samarinda – Tagar #KaburAjaDulu tengah menggema di media sosial X sejak akhir Januari 2025 hingga saat ini. Bukan sekadar tren, tapi sebuah ekspresi kolektif bahkan bentuk pelarian terencana yang digaungkan oleh diaspora Indonesia di luar negeri. Pesannya jelas, daripada terus bertahan dalam ketidakpastian di tanah sendiri, lebih baik cari ruang tumbuh di negeri orang.
Fenomena ini menjadi sorotan Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim, Darlis Pattalongi, justru melihatnya sebagai sinyal kuat dari publik yang sedang kehabisan sabar.
“Tagar itu muncul sebagai bentuk sindiran dan kritik. Ini adalah refleksi kekecewaan masyarakat terhadap arah kebijakan yang belum mampu menjawab kebutuhan dasar rakyat,” ujarnya.
Bagi Darlis, respons berlebihan apalagi mencap para pendukung tren ini sebagai anti-nasionalis adalah keliru. Sebaliknya, ini adalah wake-up call bagi pemerintah untuk kembali ke rel amanat konstitusi, memberikan kesejahteraan sebesar-besarnya bagi rakyat.
“Harusnya ini menjadi motivasi pemerintah, bukan malah dimusuhi. Kritik itu gratis dan sangat penting,” tambah politisi yang akrab disapa Darlis ini.
Dirinya menegaskan, sebelum tagar ini viral pun, anak-anak bangsa sudah banyak yang memilih hijrah ke luar negeri, baik untuk belajar, bekerja, atau sekadar mencari ruang hidup yang lebih adil.
“Kalau di dalam negeri mereka merasa tidak diberi peluang, masa berkiprah di luar negeri mesti disalahkan?” tegasnya.
Menurut Darlis, yang paling penting bukan soal mereka pergi, tapi soal apakah negara sanggup menciptakan alasan kuat untuk mereka kembali.
“Kembali atau tidaknya mereka ke tanah air sangat tergantung dari seberapa besar negara bisa menyediakan ruang aman, adil, dan layak untuk berkembang,” tutupnya. (MH/Adv/DPRDKaltim)














