AdvertorialDisdikbud Kukar

SDN 005 Genting Tanah Kembangkan Bahasa Daerah Kutai dalam Kurikulum Lokal

×

SDN 005 Genting Tanah Kembangkan Bahasa Daerah Kutai dalam Kurikulum Lokal

Sebarkan artikel ini
Kepala Sekolah SDN 005 Genting Tanah, Arhanuddin. (Pijar.asia/Ist)

Pijar.asia | Kutai Kartanegara – SDN 005 Genting Tanah di Desa Genting Tanah, Kecamatan Kembang Janggut Kukar, telah mengambil langkah penting dalam melestarikan budaya daerah dengan menerapkan bahasa daerah Kutai dalam kurikulum lokal (Mulok).

Kepala sekolah SDN 005 Genting Tanah, Arhanuddin, menjelaskan bahwa dalam proses pembelajaran, pihaknya telah membagi porsi antara bahasa Kutai dan bahasa Indonesia.

“Kami memberikan porsi 50-50 untuk kelas rendah dan 60-40 untuk kelas tinggi, di mana 60 persen menggunakan bahasa Indonesia dan 40 persen menggunakan bahasa daerah,” ujarnya pada Kamis (16/5/2024).

Arhanuddin menegaskan bahwa meskipun buku untuk pembelajaran bahasa daerah belum tersedia, guru-guru telah berusaha untuk menerapkannya secara seimbang.

“Meskipun buku belum tersedia, para guru telah berusaha untuk mengenalkan bahasa Kutai kepada siswa secara bertahap,” tambahnya.

Penerapan pembelajaran bahasa daerah ini dianggap penting untuk menjaga keberlanjutan dan keberagaman budaya daerah serta memperkuat identitas masyarakat Kukar.

“Melestarikan bahasa Kutai adalah bagian penting dari upaya kita untuk menjaga warisan budaya dan identitas lokal,” ucap Arhanuddin.

Sementara itu, mengenai pemakaian pakaian adat, Arhanuddin menyatakan bahwa pihaknya masih meninjau kondisi dan belum merencanakan penggunaannya karena juga mempertimbangkan faktor keuangan orang tua siswa.

“Kami masih menggunakan seragam yang sudah ada, dengan variasi seperti memakai baju merah putih pada Senin hingga Rabu, batik pada Kamis, olahraga pada Jumat, dan seragam Pramuka pada Sabtu,” jelasnya.

Arhanuddin mengakui bahwa menyediakan pakaian adat juga akan menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah, mengingat hal tersebut juga memerlukan keterlibatan dan dukungan finansial dari orang tua siswa.

“Kami menghadapi berbagai kesulitan dalam menyediakan pakaian adat, namun kami tetap berkomitmen untuk terus mengembangkan dan melestarikan budaya daerah,” tandasnya. (Adv)