Pijar.asia | Samarinda – Keseimbangan ekosistem Sungai Mahakam berada di titik kritis. Salah satu indikator paling mencolok adalah menurunnya populasi Pesut Mahakam, mamalia air tawar langka yang menjadi spesies endemik dan simbol alam Kalimantan Timur.
Hingga pertengahan 2025, jumlah pesut yang tersisa diperkirakan hanya sekitar 60 ekor. Penurunan drastis ini tidak hanya memunculkan kekhawatiran atas keberlangsungan spesies, tetapi juga menandai rusaknya kualitas lingkungan perairan Mahakam.
“Jika pesut punah, artinya Sungai Mahakam sedang dalam kondisi sakit parah,” kata Sarkowi V Zahry, anggota Komisi IV DPRD Kaltim.
Menurut Sarkowi, degradasi habitat pesut tidak terjadi begitu saja. Aktivitas manusia di sepanjang aliran sungai, seperti lalu lintas kapal tongkang batu bara, pencemaran limbah industri, serta proyek-proyek besar yang tidak ramah lingkungan, menjadi penyebab utama menyusutnya populasi satwa tersebut.
“Pesut adalah hewan sensitif. Mereka terganggu oleh kebisingan dan polusi. Kalau habitatnya rusak, mereka tidak bisa bertahan,” jelasnya.
Ironisnya, regulasi untuk melindungi pesut sebenarnya sudah ada, baik di tingkat daerah maupun nasional. Namun, lemahnya pengawasan dan penegakan hukum membuat aturan tersebut kehilangan daya.
“Perda dan aturan KLHK sudah jelas. Tapi selama tidak ditegakkan, itu hanya formalitas. Kita butuh komitmen nyata,” tegas politisi dari Partai Golkar itu.
Sarkowi mengingatkan bahwa isu ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Dunia usaha, terutama yang beroperasi di sekitar Mahakam, juga harus mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan ekosistem. Begitu pula masyarakat yang perlu diberdayakan dalam upaya konservasi.
“Penyelamatan pesut adalah kerja bersama. Ini soal masa depan sungai kita, bukan hanya soal satu spesies,” tambahnya.
Lebih dari sekadar ikon daerah, Pesut Mahakam memainkan peran penting dalam ekosistem sungai. Keberadaannya menunjukkan kualitas air dan tingkat kerusakan lingkungan. Bila mereka punah, bukan hanya keragaman hayati yang terancam, tetapi juga kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidup pada Mahakam.
“Jangan tunggu sampai pesut hanya jadi legenda. Ketika mereka hilang, kita mungkin sudah kehilangan lebih dari yang kita sadari,” pungkas Sarkowi. (MH/Adv/DPRDKaltim)














